Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Tuesday, March 8, 2011

Pernikahan Yang Sempurna

Inspirasi Full House

“Maukah kau menikahiku?”
Tiba-tiba saja seorang pria gila melamarku. Bagaimana aku tak menyebutknya gila jika namanya saja aku tak tahu. Yang aku tahu baru lima menit yang lalu pacarnya baru saja menolak lamarannya dan pergi meninggalkannya. Pria itu memungut cincin yang di buang pacarnya dan tiba-tiba saja menyerahkannya padaku.
***
“Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” aku mulai salah tingkah.
“Tawaranku? Tertulis jelas di kontrak itu.” tunjuknya pada berkas yang ia taruh di atas meja. Aku membuka map berwarna hijau itu dan mulai membaca isinya.
“Kau gila…” seruku setelah membaca isi Kontrak Perjanjian Pernikahan yang di sodorkannya.
“Kau sudah sering mengatakan itu,” ucapnya santai. “Kau tak akan rugi jika menikahiku. Aku bisa melunasi semua hutangmu, menyekolahkan adikmu dan menjamin keluargamu.”
“Kau menyelidikiku?” tanyaku berang.
“Itu sangat mudah untukku. Aku seorang CEO.” ucapnya membanggakan diri.
“Sighh…kau tak perlu memberitahuku. Hanya dengan mengetik namamu saja di internet, Caesar Rayandra, aku langsung mendapat banyak informasi mengenaimu.”
“Ah, ternyata kau juga menyelidiku?” ucap Caesar dengan tersenyum senang.
“Aku…aku hanya ingin tahu pria gila seperti apa kau.” Aku kembali salah tingah dibuatnya. Pria ini sangat pintar menjatuhkan orang.
***
Aku tak percaya aku bisa menikah dengan pria gila ini. Mantra apa yang ia ucapkan sehingga aku bisa menyetujui ajakannya. Aku pasti tertular kegilaannya. Mana mungin dua orang hidup dalam ikatan pernikahan tanpa cinta. Kemana impianku yang ingin menikahi seorang pangeran yang kucintai dan membangun pernikahan yang sempurna. Aku menatap kebaya pengantin putih yang ku kenakan di depan cermin. Ingin rasanya aku berlari dari gedung ini dan membatalkan pernikahanku. Sebelum terlambat, sebelum aku menyesali keputusanku menikahi pria gila itu. Tiba-tiba aku teringat perkataannya…’Kita menikah memang tanpa cinta. Tapi aku tak memungkiri jika diantara kita bisa jatuh cinta nantinya. Aku tak pernah main-main dengan pernikahan ini. Jika dalam satu tahun kau ingin berhenti, aku akan melepasmu. Jadi mari kita tandatangani kontrak ini agar tak ada yang dirugikan dengan pernikahan ini.’

Aku menatap pria gila yang baru saja ku nikahi. Ia tersenyum hangat pada tamu yang menyalaminya. Ugh, suami. Ya, pria gila ini sekarang resmi menjadi suamiku. Akhirnya aku menjadi seorang istri satu jam yang lalu tepat saat kami mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu. Aku tak habis pikir mengapa aku tak kabur saat pria gila ini mulai mengucapkan ikrar pernikahan kami. Padahal jantungku rasanya mau meloncat keluar dan berteriak aku tak mau menikah. Tapi saat aku melihat ibu. Melihat mata tuanya yang teduh rasanya upaya pemberontakanku runtuh. Kakiku terkunci saat masa depan kedua adikku yang cerah tergambar jelas jika aku menikah hari ini. Dengan mata teduhnya ibu tersenyum padaku. Aku luluh dan membiarkan seorang pria gila menjadi suamiku.
Rayandra Caesar, aku mengucapkan nama itu dalam hatiku. Nyonya Rayandra Caesar, aku harus mencoba membiasakan diri dengan menyandang nama itu. Ku lirik lagi wajah Caesar yang nampak bahagia dengan pernikahan ini. Atau ia hanya pura-pura? Tiba-tiba saja ia menoleh padaku dan tersenyum. Akh,  mengapa senyumnya terlihat sangat tulus. Detik itu juga aku merasa bisa mencintai pria itu. Hmm, dulu aku berpikir akan menikahi pria yang kucintai. Sekarang mengapa tak ku balik saja, aku akan mencintai pria yang kunikahi. Bukankah cinta bisa datang kapan saja tanpa kita ketahui dan biarkan kuasa Tuhan yang bertindak.  

Monday, January 10, 2011

Ketika Cinta Datang

Ide Cerpen bisa dateng dari mana aja. Kalo buatku seh biasanya dari film-film yang ku tonton. Tiba-tiba aja imajinasi bermunculan di kepala. Bahkan sudah jadi cerita yang utuh, tapi butuh kerja keras buat dituangin ke dalam sebuah tulisan (kebanyakan lupa apa yang mau ditulis, hehe...). Ini salah satu cerpen mini yang kubuat setelah nonton Coffee Prince.
KETIKA CINTA DATANG

Inspirasi dari Coffee Prince.

Dia mengenalku sebagai seorang pria. Dia tak pernah tahu bahwa aku ini seorang wanita. Aku benar-benar seorang wanita yang berpenampilan seperti seorang pria. Dengan rambut pendek dan selalu mengenakan t-shirt dan jeans. Tapi sekarang hal ini jadi masalah untukku. Saat aku mulai berdebar-debar jika ada disampingnya. Saat aku tak tahan untuk selalu mencuri pandang ke wajahnya yang sempurna. Bisakah tiba-tiba aku mengatakan padanya bahwa aku ini seorang wanita?

Gadis bodoh. Dari pertama kali bertemu aku sudah tahu bahwa ia seorang wanita. Kalau saja dia tak bodoh mungkin aku akan sangat heran sekali mengapa ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang pria. Heh, bagaimana mungkin seorang pria takut pada kecoa, cacing, tikus dan hal-hal menggelikan yang seharusnya tak ditakuti oleh pria. Oke, aku bisa memaklumi pria yang fobia pada tikus atau kecoa. Tapi dia, terlalu banyak yang ditakutinya. Bagaimana bisa pria bisa hidup dengan banyak fobia. Hanya wanita yang menjerit keras saat aku menyodorkan cacing di depan matanya. Tapi akhir-akhir ini mengapa aku selalu memimpikannya. Aku tak pernah berhenti memikirkannya. Dan yang lebih aneh, di mataku ia terlihat sangat cantik. Aku rasa aku sudah gila. Bagaimana mungkin gadis seperti itu bisa membuatku jatuh cinta. Aku yakin bukan aku saja yang menganggapku sudah gila.  
****
“Hey, bisakah kau makan dengan pelan-pelan!” seru Joe pada El. El bergumam tak jelas dengan mulut penuh makanan. Joe hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya dan kembali meneruskan makan siangnya.
“Dasar gadis bodoh…” komentarnya sambil mengaduk nasi-nya.
Secara tiba-tiba El tersedak. Ia menyemburkan makanan di mulutnya ke atas meja dan mulai terbatuk-batuk. Joe serta merta menyambar gelas di depannya dan menyerahkannya pada El. El meminum air dengan terburu-buru.
“Apa kubilang…” hardik Joe keras.
“Iya…kau bilang apa barusan?” tanya El was-was.
“Makan pelan-pelan…”
“Bukan…” El menggelang.
“Yang mana?” Joe seakan tak sadar dengan ucapan terakhirnya.
“Gadis bodoh…” ucap El tak sabar.
Joe tertegun sesaat lalu ia tertawa mengingat komentarnya tadi. Ia memandang El tajam. “Mau sampai kapan kau menyembunyikan hal itu dariku?”
“A-apa..?” jawab El gugup.
“Dari semuanya hanya selera makanmu saja yang bisa dibilang mirip seorang pria. Ckckck, aku tak mengerti bagaimana bisa kau makan sebanyak ini?”
El memberenggut. “Sejak kapan kau tahu? Aku tak pernah bermaksud berbohong padamu? Aku…”
“Sttt…aku tak mau dengar apa-apa darimu.” potong Joe.
“Kau tahu, bagaimana aku tak makan banyak jika aku tak perlu membayar makanan yang ku makan." jawab El enteng.
Joe menatap El tak percaya. El tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, aku berjanji akan mengajakmu makan disini setiap malam minggu.” ucap Joe.
“Apa…hanya malam minggu? Aku berharap kau mengajaku kesini tiap hari.”sahut El. Lalu tiba-tiba ia menyadari sesuatu dan langsung menutup mulutnya. Ia memandangi Joe yang tersenyum penuh arti di depannya. Lalu wajah El mulai memerah tomat.